Sign In

​Oleh KH. Muchtar Ilyas


Ma’asyiral Muslimin,

Alhamdulillah pada siang hari ini kita menghadap Allah Swt dengan rangkaian ibadah yang kita lakukan. Kita berharap semoga ibadah kita diterima oleh Allah.

Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad Saw. Mari kita tingkatkan takwa kita kepada-Nya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Dalam surat al-Infithar ayat 1-5 Allah berfirman,

اِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَاِذَا الْبِحَارُ فَجِّرَتْ. وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْ.

 

Ketika langit telah terbelah, apabila bintang gemintang mulai berjatuhan. Dan lautan meluap apabila orang-orang dalam kubur mulai dibangunkan. Pada saat itulah akan ditunjukkan kepadanya apa yang telah ia kerjakan dan lalaikan.”

 

Orang tua dulu bilang, “becik ketitik olo ketoro.” Yang baik terlihat begitu pula yang buruk. Sebagai manusia, yang terus bertambah usia, mestinya amal ibadah kita bertambah dan dosa kita berkurang. Namun sayang kebanyakan manusia adalah seperti syair Abu Nawas:

ذُنُوْبِ مِثْلُ اَعْدَادِ الرِّمَالِ  فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلَالِ

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ   وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَلِ

Dosa-dosaku bagaikan bilangan pasir. Maka terimalah taubatku Zat Yang Maha Agung

Umurku setiap hari berkurang. dan dosaku bertambah bagaimana aku menanggungnya

 

Kalau kita membahas pahala dan dosa, ada dua hal yang harus kita perhatikan; dosa kepada Allah Swt dan dosa kepada manusia.Ketahuilah dosa kepada Allah itu lebih gampang ditaubati, karena kita bisa ketemu dengan-Nya kapan saja. Dan kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sepertinya makin hari manusia pahalanya makin banyak kepada Allah. Dalam hal kewajiban, Rasul sering bilang  ghufiro lahu ma taqaddama min dambihi...barang siapa pergi haji, keluar dari Arofah maka dosanya diampuni oleh Allah... Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan berharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu. Orang yang berwudu maka dosa yang menempel di muka dan kakinya dihilangkan oleh Allah. Barang siapa yang melakukan shalat fardu maka seperti mencuci tubuhnya di kali lima kali. Pendek kata, kewajiban itu menambah pahala dan mengurangi dosa.

 

Yang penting jangan murtad apalagi syirik. Orang murtad akan mati dalam keadaan kafir dan pahalanya terhapus. Sementara orang musyrik diharamkan baginya surga. Musyrik itu mengambil haknya Allah Swt baik secara jelas maupun tidak jelas. Yang mematikan dan menghidupkan adalah Allah. Yang memberi rezeki adalah Allah. Jika misalnya kita berkeyakinan orang yang meninggal hari Sabtu  akan membawa ‘teman’, itu keyakinan musyrik. Karena yang menghidupkan dan mematikan adalah Allah. Kemarin-kemarin sedang booming batu cincin. Kalau kita yakin dengan cincin itu kita mendapat rezeki melimpah dan sebagainya dan sebagainya maka itu keyakinan syirik. Orang musyrik itu seperti orang jatuh dari langit, kemudian dibawa oleh burung atau disambar angin, kemudian dilempar ke tempat yang sangat jauh.  Orang musyrik itu sesat dan sangat jauh sesatnya. Makanya akidah Islam itu  la ilaha illahu wahdahu laa syarika lah. Syirik adalah min akbaril kabaair (termasuk dalam dosa besar).

Dalam al-Quran Allah berfirman,

 

 

اِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ اَنْ يُشْرِكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَالِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرٰى اِثْمًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisa ayat 48)

 

Sekarang ini kita lihat kalau mau mantu ada siraman tujuh sumur. Ketika kita tanya, biar kekal pernikahannya. Akhirnya kekalnya bukan karena Allah, tapi karena mandi tujuh sumur itu. Banyak kita lihat juga  kalau orang tua meninggal anak disuruh melintas dibawahnya.  Biar orang tuanya selalu melindungi, karena dia ditinggal mati oleh orang tuanya.  Padahal kita punya keyakinan, inna lillahi wainna ilahi rajiun.

 

Ma’asyiral muslim

Berbeda dengan dosa yang bertalian dengan mansuaia, atau yang disebut hak adami, hak anak Adam. Dosa kepada manusia  Allah tidak turut campur. Kita punya hutang kepada manusia, tidak bisa hilang dengan haji, tidak bisa hilang dengan puasa, kecuali kita mengembalikan uang itu. Karena hak manusia itu sangat dilindungi oleh Allah. Sekedar contoh, ada orang kaya dengan tiga orang anak,  satu laki laki  dan dua  perempuan. Dalam hukum waris Islam, laki-laki dapat dua bagian dan perempuan dapat satu bagian. Maka ketika laki-laki bilang supaya harta itu diserahkan kepada suadaranya perempuan, maka itu boleh. Karena itu haknya manusia. Bahkan, kalau mau dibagi sama itu pun boleh.

 

Makanya kita harus hati-hati jangan sampai melakukan dosa terhadap manusia. Jangan sampai kita menyakiti hati manusia lain dnegan sikap kita. Diantaranya dengan sikap sombong.  Sombong itu mengingkari kebenaran dan menganggap derajat manusia lain lebih rendah.

Nabi bersada

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

 

“Barangsiapa yang di dalam hatinya ada sedikit sombong maka tidak masuk surga.”

 

Kedua dengan hasud atau iri. Penyakit hati ini harus dihilangkan. Maka, setiap muslim apabila ketemu sesamanya disunahkan mengucapkan assalamualaikum. Suruh mendoakan kebaikan dan kerahmatan. Bahkan diingatkan seorang muslim boleh tidak saling tegur sapa hanya sampai tiga hari. Bahkan para ulama mengatakan, orang yang mati dalam keadaan membenci maka dia hampir-hampir mati su’ul khatimah.

 

Kata Nabi

اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا يَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Hasad itu menghilangkan kebaikan seperti api membakar kayu bakar.

 

Makin besar hasudnya maka makin cepat hilangnya. Puasa kita hilang, haji kita hilang, gara-gara kita punya sifat iri.

Keempat dnegan ujub. Dan kelima, dengan riya. Penyakit-penyakit ini harus dihilangkan.

Ketika Nabi dan sahabat duduk-duduk, Nabi berkata, “Sebentar lagi ada penduduk surga yang akan mau lewat.” Kemudian Lewatnya sahabat dari Anshar yang ahli wudu. Hari berikutnya Nabi berkata lagi, ada penduduk surga yang lewat, dan ternyata orang itu lagi yang lewat. Ketiga lagi, orang itu lagi. Maka Abdullah bin Ash membuntutinya, dan kemudian meminta izin bisa tidur di rumah orang itu. Dia tidur di sana selama tiga hari. Diperhatikan amalan apa kok dia dikatakan sebagai penduduk surga. Namun Abullah bin Amr bin Ash kecewa, karena ia tidak menemukan kelebihan apa-apa pada orang tersebut. Yang dilakukan orang itu sama seperti dilakukan orang lain. Pada hari ketiga dia berpamitan. Abdullah pun bertanya, “Amalan  apa yang membuat engkau dikatakan Nabi sebagai ahli surga.” Orang itu bilang, “Saya tidak memiliki amalam apa-apa.”

Sebelum Abdullah melangkah pulang, orang itu memanggilnya. Kemudian dia menjelaskan, “Mungkin karena hati saya tidak ada rasa iri, dengki, dan saya selalu bersyukur.”

Maka kata Amr bin Ash, “Mungkin karena itu Nabi memberi julukan tuan penduduk surga yang berjalan di atas bumi.”

 

Oleh karena itu marilah kita bersihkan penyakit hati kita.